Kamis, 10 Maret 2016

Januari16 Tarekat 11 " Surga Mimpi Dalam Harapan"


Surga Mimpi Dalam Harapan

Cinta, mimpi, harapan dan kebahagiaan yang dirasakan hati ini adalah asal mula duniaku.
Entah mengapa hati ini melabuhkan cintanya di pelabuhan cintamu yang merenggutku dari surga mimpi.
Betapa kenyataan aku begitu berutang pada setiap jawaban yang terucap dari hatimu.
Akupun berutang pada setiap getaran perasaan cintaku padamu, karenanya dengan itulah aku mampu bertahan dengan penuh harap menjalani kehidupan dan menaklukkan duniaku.
Dan semoga aku tidak berutang atas kesedihan yang meracuni masa-masa harapanku, akibat penolakan yang belum terucap dari lisanmu.





Yogyakarta, 11 Januari 2016



                                                                3a

Desember15 Tarekat 10 " Salam Mimpi Lewat Ciptaan Tuhan"

Salam Mimpi Lewat Ciptaan Tuhan

Jika aku bisa berbicara dengan angin, akan kusampaikan salam rinduku lewat hembusannya yang menenangkan jiwa

Jika aku bisa berbicara dengan awan, akan kuminta untuk selalu cerah, agar kamu merasakan ketulusan hati yang secerah awan

Jika aku bisa berbicara dengan matahari, akan kuminta berhenti bersinar, agar setiap saat tercipta malam untukku berdoa kepada penciptamu

Jika aku bisa berbicara dengan Bulan, akan kuminta tetap purnama, agar aku melihat keindahan sebelum bertemu keindahan wajahmu di dalam mimpi

Jika seluruh suratku sampai kepadamu, akan kuminta kamu menyimpan dan menyembunyikannya setelah kamu baca, agar aku tahu bahwa kesucian cintamu tak termakan oleh untaian kata.



Yogyakarta, 11 Desember 2015


                                                            3a

November15 Tarekat 9 "Keaslian Cinta Dalam Jiwa"

KEASLIAN CINTA DALAM JIWA

Andai Wajahmu dilukiskan oleh pelukis terbaik dunia ini, maka aku akan mendapati wajah palsumu dilukisan itu.
Karena sentuhan tangan terbaik takkan bisa melukismu.

Andai lukisan itu satu-satunya wajahmu di dunia ini, maka aku akan mendapati wajah palsumu dilukisan itu.
Karena perjumpaan kita membuat wajahmu tak bisa disamakan.

Andai aku  hanya bisa memandang lukisan itu, maka aku akan mendapati wajah palsumu dilukisan itu.
Karena aku lebih percaya akan pertemuan kita di dalam mimpi.

Andai aku hanya bisa meraba lukisanmu, maka aku akan mendapati kehadiran palsumu di lukisan itu.
Karena kehadiranmu hanya bisa dirasakan dalam hati.


Yogyakarta, 11 November 2015

                                                3a


Oktober15 Tarekat 8 "Kebermaknaan Pilihan"

KEBERMAKNAAN PILIHAN

Jika mata tak lagi tertutup, bagaimana kumemimpikanmu
Jika kata tak lagi bermakna, bagaiamana kumelukiskanmu
Jika doa tak lagi terkabul, bagaiamana kumengharapkanmu

Akan ada masa dimana memimpikanmu dengan menutup mata
Melukiskanmu dengan kata bermakna
Dan mengharapkanmu dengan doa

Akan ada masa pula dimana mata yang tertutup tak lagi memimpikanmu
Kata yang bermakna tak lagi melukiskanmu
Dan doa yang terkabul tak lagi mengharapkanmu


Yogyakarta, 11 Oktober 2015


                                                            3a












September15 Tarekat 7 " Aku dan Tubuh Titipan Tuhan"

Aku dan Tubuh Titipan Tuhan

Izinkan aku menggunakan mata ini untuk memandang bidadari Tuhan di Bumi ini.
Izinkan aku menggunakan satu telingaku untuk memahami perkataanmu, dan satunya lagi untuk mendengarkan bisikan Tuhan akan dirimu.
Izinkan aku menggunakan mulut ini untuk melanturkan doa harapan tentang dirimu.
Izinkan tangan ini menghapus air mata kesedihanmu, dan menggenggam tanganmu di atas janji suci kebahagiaan.
Izinkan kaki ini melangkah bersamamu dalam menghabiskan detik-detik kehidupan dari Tuhan.


Yogyakarta, 11 September 2015

           
3a




Agustus15 Tarekat 6 "Kebebasan Memilih Dalam Takdir

Kebebasan Memilih Dalam Takdir

Untuk yang kesekian kalinya, kugerakkan pena ini untuk menanamkan tintanya di kertas kosong ini.
Tiba-tiba malam ini aku tersadar, dalam setiap kehidupan di dunia ini aku dihadapkan oleh pilihan dan takdir.
Aku hanyalah ciptaan yang menjadi wayang dalam cerita takdir,
Tapi disisi lain, aku menginginkan kebebesan dalam menentukan pilihan.
Hingga timbul pertanyaan terbesarku, jikalau aku diberi kesempatan untuk menghitbahmu, apakah itu sebuah takdir ?
Dan jika aku diberikan Takdir untuk sekedar menjadikan harapan sebatas mimpi, apakah itu sebuah pilihanku?
Entah kamu adalah Takdir atau Pilihan, kuharap engkau adalah harapan yang nyata


Yogyakarta, 11 Agustus 2015


3a

Senin, 07 Maret 2016

Pengetahuanku Menggugat Agama

Pengetahuanku menggugat Agama
Oleh        : Ahmad Awaluddin Aras

Sering terbisik ditelinga kita ungkapan “ contohlah padi, semakin berisi semakin tunduk”. Analogi ini memang sangat bagus dijadikan sebagai motivasi, terlebih lagi dikalangan masyarakat pada umumnya dan penuntut ilmu pada khususnya. Mengapa dianalogikan sebagai padi?. Kita bisa mengamati bagaimana padi itu berproses, dari setitik benih yang dihamburkan di tengah sawah (diampo’) dalam bahasa bugis Bone, tumbuh menjadi sebatang padi, menghasilkan daun, hingga akhirnya menumbuhkan biji-bijian yang dikonsumsi oleh sebagian besar masyarakat Indonesia.
Tentunya, analogi ini akan mengikuti perkembangan zaman, yang berkembang dari waktu ke waktu. Hingga saya sempat berpikir bahwa ketika padi diibaratkan llmu, maka matahari adalah agama (keyakinan). Kita bisa melihat tanaman padi,
Awal mula kehidupan padi adalah ketika bibit-bibit padi dihamburkan ke tengah sawah. Begitu banyak bibit-bibit padi yang dihamburkan, tetapi tidak semuanya akan mencapai tahap puncak (menghasilkan biji padi), hanya yang bertahanlah yang akan bisa dimanfaatkan oleh manusia. Fase ini saya analogikan seperti sperma yang dikeluarkan seorang ayah, berjalan memasuki rahim seorang ibu, melewati segala rintangan di dalamnya hingga akhirnya hanya yang bertahan pula yang akan menjadi janin. Disini kehidupan manusia berlangsung tanpa adanya campur tangan dari luar, entah itu pemilik rahim maupun pemilik sperma.
Setelah bibit padi tumbuh menjadi tunas, mulailah padi itu diberikan pupuk, disirami racun pembasmi hama, dan hal-hal lainnya yang akan melindunginya agar bisa menjadi sebatang padi yang kokoh. Begitupula ketika janin telah dilahirkan di muka bumi ini, dia akan menjadi seorang bayi mungil yang akan selalu dilindungi oleh orangtuanya, agar dia menjadi manusia dewasa.
Akhirnya dari tunas menjadi sebatang padi yang kokoh, kuat, dan sudah mulai bisa melindungi dirinya sendiri. Begitupula seorang anak remaja, yang sudah bisa mentaati perintah dari orangtuanya, keluarga, bahkan masyarakat. Tanpa dia ketahui mengapa yang dilakukannya itu diterima baik/ditolak oleh masyarakat. Di masa ini seorang remaja akan lebih memikirkan harga dirinya agar bisa diterima baik oleh masyarakat, sudah bisa membedakan perintah agama beserta larangannya. Di fase ini seorang anak tadi mulai mengkonsumsi ilmu, bahkan haus akan ilmu.
Entah mengapa padi yang kokoh tadi, tumbuh lurus  menghadap ke matahari. Hal ini dijelaskan dalam bidang biologi bahwa tanaman hijau yang tumbuh akan mengarah ke matahari, entah itu pucuk atau daunnya. Megapa demikian?, karena matahari adalah penyalur cahaya bagi tumbuhan padi untuk melakukan proses fotosintesis. Dapat dikatakan bahwa mataharilah yang memberikan kehidupan kepada sang padi. Ibarat manusia dewasa, fase ini saya sebut sebagai fase penerimaan tanpa penyaringan. Dimana manusia dewasa menerima ilmu, dia sudah bisa menggunakan akal dan pikirannya dalam membedakan hal yang baik dan buruk.
Hingga akhirnya ketika matahari memberikan cahayanya, sang padipun melakukan proses fotosintesis yang menghasilkan biji-bijian, semakin banyak biji-bijian yang dihasilkan, semakin merunduk pula padi itu dan berpaling dari matahari, hingga ia dipetik dan dikonsumis oleh manusia.
Lalu apa masalahnya? Tidak ada masalah di dalamnya, akan tetapi ketika seorang manusia terlahir di dunia ini, dia terlahir sebagai manusia fitrah, bersih dan bagaikan kertas putih. Ketika dia diajarkan kebaikan maka dia akan melakukan kebaikan, begitupun sebaliknya, ketika dia diajarkan keburukan, maka keburukan pula yang dilakukannya. Hingga akhirnya seorang manusia menjadi dewasa dan mulai memiliki banyak pengetahuan tentang agama. Semakin banyak pengetahuan yang dimilikinya, semakin banyak pula pertimbangan di dalam benaknya, hingga hal-hal yang seharusnya diyakininya pun ditinggalkan lantaran tidak menemukan penjelasan ilmiahnya. Seseorang yang dengan pengetahuannya akan meninggalkan agama jika dia tidak bisa membuktikan kebenaran agama itu, dia meninggalkan agama dengan modal pengetahuannya yang sangat luar biasa hingga  jiwanya harus bertatap muka dengan malaikat israil.

Janganlah berbangga diri dan tinggi hati ketika memiliki pengetahuan, karena pengetahuan itu hanya sebatas ilmu tanpa diaplikasikan. Dan ketika ilmu yang diaplikasikan bertentangan dengan agama, maka ilmu itu hanya akan menjadi sebatas pengetahuan yang tidak bermanfaat. Jika kata tak lagi bermakna, lebih baik diam saya, meski diam itu adalah emas, akan tetapi berbicara pada saat yang dibutuhkan adalah berlian.